-->
Adalah telah menjadi kebiasaan di
setiap awal tahun, bahwa hampir seluruh perusahaan dihadapkan pada permasalahan
kenaikan biaya produksi, baik sebagai dampak kenaikan upah buruh maupun kenaikan
biaya energy (kenaikan BBM yang semakin langka).
Dalam dunia industri saat ini,
tidak jarang kita menemui perusahaan besar yang mulai mengalami krisis, bahkan
tidak sedikit yang terancam gulung tikar, baik perusahaan nasional, maupun
multi nasional, seperti: Dell, Deplhi, Kodak, Mandala Airline dan terakhir
Batavia Air.
Untuk dapat survive dan memenangkan
persaingan di tengah ketidakpastian
perekonomian saat ini, perlu segera dilakukan tindakan nyata dan dengan
paradigma yang benar, agar menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif dan
mutu yang sesuai. Pertanyaan yang sederhana, “apakah upaya pengendalian biaya
produksi dan meningkatkan profit, dilakukan berfokus pada pengendalian biaya/cost control?”, atau dengan “berfokus
pada pengendalian dan perbaikan proses yang berkesinambungan (continual improvement)?
BIAYA DAN MUTU PRODUK
Persaingan dalam
seluruh sektor industri saat ini, telah menjadikan pelanggan – yang
masing-masing dipengaruhi oleh gaya hidup/life
style dan teknologi – sebagai raja dan parameter dalam melakukan perbaikan
dan pengembangan produk ataupun jasa yang digunakan oleh pelanggan. Hal ini
memberikan pengaruh yang teramat besar
terhadap siklus hidup produk (product
life cycle), yang akhirnya merubah paradigma “mutu produk terbaik, memiliki umur ekonomis yang
panjang”. Bila anda mengganti ponsel/handphone
yang anda miliki, apakah semata-mata karena alat tersebut sudah tidak dapat
digunakan lagi? Atau karena sudah ketinggalan model dan telah hadir model/fitur
yang baru?
Dengan kata yang
sederhana, saat ini mutu dapat didefenisikan sebagai: “produk yang dapat
digunakan sesuai dengan fungsinya (termasuk persyaratan pelanggan/konsumen) dan
tanpa masalah (tidak mengalami kerusakan dalam waktu yang ditetapkan)”. “Sesuai
fungsi dan tanpa masalah!”
Atribut mutu sesungguhnya telah melekat mulai
tahap awal (proses pembelian material). Bila proses telah dilakukan dengan
benar dan sesuai dengan prosedur, maka secara umum produk yang dihasilkan akan
sesuai dengan persyaratan mutu yang telah ditetapkan. “Quality is free. But it’s not a gift” – Philip B. Crosby. Bila
material yang dibeli sesuai dengan standar mutu yang ada, namun dalam proses
produksi dihasilkan produk dengan mutu di bawah standar yang ditetapkan, maka
tentu saja hal ini membutuhkan pengorbanan biaya yang cukup besar, dan menjadi
biaya mutu/ cost of quality. – Segala
bentuk kegagalan, waste dan
pemborosan lainnya yang terjadi dalam proses produksi tidak dapat
dikompensasikan kepada konsumen sebagai cost
of quality dalam bentuk harga jual. –
HARGA PRODUK (COST OF GOODS SOLD)
DAN PROSES PRODUKSI
Setiap produk
yang dijual kepada konsumen merupakan hasil dari suatu proses transformasi atas
sejumlah masukan (input) menjadi
keluaran (output/produk) yang sesuai
dengan fungsinya dan tanpa masalah. Berdasarkan defenisi tersebut, maka kinerja
dan profit perusahaan ditentukan oleh beberapa faktor yang sangat berpengaruh
besar, yaitu: biaya bahan baku (input),
biaya proses transformasi (biaya produksi) – biaya tenaga kerja, factory overhead, dll. – dan jumlah
(serta harga jual) produk yang dihasilkan (output).
Sehingga untuk
dapat memperbaiki harga jual produk yang kompetitif dan peningkatan profit,
upaya efisiensi proses produksi difokuskan pada optimalisasi dalam penggunaan
segala sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan produk (output) dan mengacu
pada prinsip “memenuhi persyaratan yang ditetapkan (meet to requirements)”. Upaya tersebut dapat dicapai dengan
melakukan pengendalian 4 (empat) hal utama, yaitu:
1.
Pengendalian Alur Proses
Seluruh proses produksi yang dilakukan harus sesuai
dengan standar proses yang telah ditetapkan. Penyimpangan yang terjadi terhadap
alur proses, akan mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan, yang pada akhirnya
akan mempengaruhi angka profit dan target penjualan produk.
Bila seluruh proses telah dilakukan dengan benar dan
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, maka akan dihasilkan produk yang
ekonomis dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan/zero defect.
Dengan mengendalikan alur proses secara konsisten, maka
4 (empat) jenis pemborosan/waste (over production waste, inventory waste, defect-production waste, processing-related
waste) secara otomatis dan terkendali.
2.
Pengendalian penggunaan waktu proses
Efisiensi sangat tergantung pada optimalisasi penggunaan
waktu proses, sebab hampir seluruh biaya yang dikeluarkan merupakan kompensasi
atas jumlah waktu yang digunakan – tenaga kerja dibayar berdasarkan jam kerja
ataupun hari kerja –. Efisiensi dalam penggunaan waktu kerja ditujukan untuk
meningkatkan produktifitas yang secara signifikan akan mengendalikan biaya
produksi. Waktu proses yang tidak terkendali – proses yang seharusnya selesai 5
jam, menjadi 7 jam – akan mengakibatkan efek berantai/multiplier effect pada peningkatan biaya produksi (tenaga kerja,
energi, mesin, maupun fasilitas lainnya). Pengendalian waktu proses akan
meminimalkan pemborosan perpindahan/conveyance
waste dan pemborosan waktu menunggu/idle
time waste.
3.
Pengendalian penggunaan ruang proses (asset tak
bergerak)
Seluruh aktivitas proses dirangkai dalam suatu ruang
(bangunan – kantor, pabrik, mesin, peralatan serta investasi lainnya), yang
tentunya merupakan suatu investasi usaha yang harus dikembalikan dalam bentuk
depresiasi yang akan dibebankan sebagai bagian dari biaya produksi tetap (fixed cost). Setiap m2 lantai
proses (bangunan dan tanah) telah memberikan kontribusi terhadap biaya produk,
sehingga seluruh rangkaian proses harus dapat memanfaatkan setiap m2
dengan optimal untuk dapat menghasilkan produk yang optimal. Demikian juga
untuk investasi fasilitas proses lainnya. Nilai inventaris yang besar pada
setiap working area tidak dapat memberikan jaminan secara langsung terhadap
pencapaian profit yang tinggi. Pengendalian penggunaan ruang proses juga aakan
meminimalkan pemborosan perpindahan/ conveyance
waste
4.
Pengendalian pengunaan gerak proses (asset
bergerak)
Seluruh mesin, peralatan pendukung proses/asset bergerak
bahkan tenaga kerja merupakan investasi yang cukup kritis untuk terjadinya
inefisiensi. Setiap mesin dan peralatan ini telah memiliki standar kapasitas,
sehingga energi yang dikonsumsi akan sama bila memproses material yang
berjumlah di bawah ataupun sesuai dengan standar kapasitas. Untuk itu, maka
seluruh proses harus mengacu pada optimalisasi kapasitas mesin/peralatan
tersebut – minimisasi pemborosan gerakan/operational-related
waste minimize dan pemborosan perpindahan/conveyance waste.
FOKUS PADA PROSES
Biaya (cost) merupakan faktor yang berubah
(fungsi) sebagai akibat dari suatu rangkaian aktivitas (faktor pe-ubah) yang
dilakukan. Apabila hal ini dinotasikan ke dalam suatu rumus fungsi, maka kita
akan memperoleh rumus:
f(x) = ax1
+ bx2 + … + nxi + Constanta
Sehingga dari rumusan tersebut
dapat dilihat bahwa pemicu biaya (cost
driver) sesungguhnya adalah aktivitas/proses tersebut. Dengan demikian
upaya efisiensi yang paling efektif dan tepat adalah dengan berfokus pada
optimalisasi seluruh rangkaian aktivitas proses produksi. Bukankah bila jam
proses (normal atau dengan lembur) yang kecil maka upah tenaga kerja yang
dibayarkan juga lebih sedikit? Bukankah bila jam proses yang dibutuhkan
singkat, maka konsumsi energi yang dibutuhkan untuk penerangan juga lebih
sedikit? Bukankah bila hal-hal yang sebaliknya terjadi, maka cost akan
meningkat? Tiga pertanyaan di atas dan banyak pertanyaan lainnya adalah fakta
bukan fenomena?
Gambar 1.1. Diagram Sistem Produksi
Secara umum,
sistem produksi merupakan proses transformasi dari bahan baku menjadi produk
(Gambar 1.1). Dari Gambar 1.1 dapat terlihat bahwa proses produksi merupakan
interaksi dari berbagai faktor untuk
menghasilkan produk/jasa yang ditetapkan. Interaksi tersebut tidak hanya
terjadi pada proses transformasi produk, tetapi juga pada proses pemasokan
bahan baku serta penjualan produk kepada pelanggan. Dari gambar tersebut juga
dapat kita lihat bahwa terdapat suatu sistem dalam proses penyediaan bahan
baku, dimana pihak pesaing turut berinteraksi sehingga memberikan pengaruh terhadap
kemampuan pemasok dalam menyediakan bahan
baku dalam jumlah yang cukup dan harga yang kompetitif. Demikian juga
dengan proses penjualan produk, pesaing memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap minat pelanggan dalam membeli produk yang dihasilkan serta
mempengaruhi harga produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Dengan kata lain,
organisasi tidak dapat memiliki kendali penuh terhadap suplai bahan baku dan
meningkatkan penjualan produk (sekalipun perusahaan telah membangun jaringan
dari hulu ke hilir, namun organisasi tidak akan bisa secara total mengendalikan
rantai pasokan dan penjualan produk). Organisasi hanya memiliki kendali penuh
pada proses produksinya (proses transformasi).
Untuk itu, maka
seluruh aktivitas proses produksi harus dapat dikendalikan secara optimal dan
berkesinambungan. Pengendalian proses secara nyata akan bedampak terhadap upaya
menghilangkan pemborosan (Muda) – 7
pemborosan/waste: over production, inventory waste, defect production, processing-related,
conveyance waste, idle time waste, operational-related waste – menghilangkan ketidakteraturan (Mura) dan meningkatkan pemanfaatan (Muri) seluruh sumber daya yang dimiliki.
Don’t
control your cost!!! Control your process and monitor your cost. Proses
yang baik dan benar akan menghasilkan produk yang berkualitas baik serta harga
jual yang kompetitif dan profitable.
Saatnya untuk berubah!!!
Saatnya untuk berubah!!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar